Penyebab lainnya yaitu sebagai berikut :
4. Egois
Sifat egois seseorang adalah biang dari
aneka kebusukan dan kejahatan
lainnya. Seseorang yang egois memiliki
beberapa ciri, diantaranya ; serakah,
tamak, licik, mau untung sendiri, mau
menang sendiri, pelit, dan kikir.
Bagi seorang egois, jangankan sudah
mendapat untung, baru berencana pun
sudah tampak keserakahannya. Rasa-
rasanya berat sekali untuk berbagi untung
dengan orang lain dengan adil. Selalu saja
menganggap dirinya paling berhak,
paling baik, paling berjasa, dan aneka alasan
lainnya agar hanya dirinyalah
yang mendapatkan sebanyak mungkin.
Tidak aneh bila dia akan sangat ringan
untuk berbuat licik dan aniaya dalam upaya
memenuhi ketamakannya.
Sungguh, bagi orang egois akan sangat
berat melihat orang lain beruntung.
Begitu pula dalam berbicara, dia akan
berupaya selalu mendominasi
pembicaraan dan tidak pernah mau
mengalah. Selalu ingin menang sendiri.
Memang sangat menjengkelkan orang egois
ini. Karenanya, yakinilah tidak akan
ada yang bersimpati kepada orang yang
egois serta serakah, justru sebaliknya
simpati kesetiaan dan penghormatan hanya
akan datang kepada orang yang
dengan tulus banyak melakukan pemberian
dan pengorbanan.
5. Tidak adil
Bagaimana perasaan kita ketika melihat
guru yang pilih kasih, yang hanya
memperhatikan murid yang rupawan serta
kaya saja ? sikapnya ramah
kepadanya,namun ketus kepada yang lain,
sungguh tidak adil, tentu saja ini
adalah perbuatan yang menyebalkan,
bukan ? Pemimpin yang pilih kasih, yang
hanya menilai dan memutuskan
berdasarkan selera serta kesenangan
perasaan
pribadi, tidak objektif, tidak sesuai dengan
fakta dan data adalah pemimpin
yang sangat malang, dia benar-benar akan
menjadi bulan-bulanan kedongkolan
orang lain. Tidak akan pernah disukai. Dia
adalah pemimpin yang gagal.
Oleh karena itu, dalam keputusan apapun
yang dibuat harus seadil-adilnya.
Jangan libatkan rasa cinta, sayang,
kekeluargaan, kebencian atau perasaan
lainnya yang membuat kita menjadi
lemahdan kehilangan objektivitas.
Bertindaklah berdasarkan berdasarkan fakta
yang benar dan putuskan
berdasarkan aturan yang benar, tepat, dan
adil. Ingat baik-baik, tidak ada
satupun tindakan yang tidak beresiko,
segala tindakan yang tidak beresiko,
segala tindakan akan mengundang resiko.
Pahit namun adil akan berakibat
manis pada akhirnya, namun manis tapi
tidak adil akan terasa pahit
selamanya.
6. kesombongan
Ciri yang khas dari orang yang sombong
adalah menganggap orang lain lebih
remeh dan lebih rendah dari dirinya. Sikap
ini akan nampak dari nada dan
cara berbicara, sikap duduk, menunjuk,
memanggil seseorang dan
gerak-gerik lainnya. Keputusan serta
tindakan-tindakannya selalu ingin
menunjukan bahwa dirinya lebih tinggi,
lebih berkuasa, lebih terhormat dari
orang lain. Dia tidak akan senang jikalau ada
yang menyamainya.
Padahal serendah appaun manusia
dikeningnya adalah sebuah “cap” yang
sama,
yang berbunyi “hargailah saya”.
Sesungguhnya kesombongan akan
membuat
seseorang tidak mampu menghargai orang
lain. Akibatnya mudah ditebak,
penghargaan pun tidak akan pernah
menghampirinya. Andaipun ada yang
tampak
mengikuti dan menurutinya, biasanya bukan
karena setia atau hormat melainkan
karena takut. Kita tidak pernah bisa membeli
hati dengan merendahkannya,
justru hati akan terbeli dengan kerendahan
hatilagi, hati hanya dapat
disentuh oleh hati lagi. Percayalah tidak
pernah ada kemuliaan bagi yang
sombong dan takabur, kemuliaan hanya
milik orang yang rendah hati dengan
tulus.
7. Hidup menjadi beban
siapapun yang menjadi benalu atau parasit,
tidak akan pernah berwibawa.
Kesenangan membebani orang lain adalah
kesenangan yang menghancurkan wibawa
sendiri. Silahkan bayangkan sendiri, wibawa
pemimpin yang peminta-minta yang
dikenal membebani orang yang
dipimpinnya. Atau pula menantu yang selalu
tinggal di peondok mertua permai, beban
makan, minum, listrik, air dan
lain-lain secara gratis. Apalagi jika tidak
tampak usaha yang gigih untuk
mendiri atau setidaknya balas budi dengan
meringankan sebagian beban yang
mampu dipikulnya. Adapula orang yang
datang hanya berkunjung dikala dia
butuh, tapi tidak demikian disaat makmur.
Sungguh akan jatuhlah wibawa
orang-orang semacam ini. Karenanya,
pastikan diri kita menjadi orang yang
paling minimal dalam membuat orang lain
terbebani dalam bentuk apapun.
Jangan pernah ringan menyuruh orang lain
terhadap sesuatu yang masih bisa
dilakukan sendiri, dan jangan merasa
bahagia ketika orang lain menjadi payah
dan repot untuk mengurus keperluan kita.
Hanya saja, suatu kenyataan bahwa
kita tidak mungkin lepas sama sekali dari
bantuan orang lain. Namun andaipun
suatu saat kita harus menjadi beban bagi
yang lain, maka buatlah beban ini
seminimal mungkin. Perjuangkan pula untuk
membalas meringankan beban yang
bersangkutan dari sisi lain yang kita
mampu, semaksimal mungkin, insya Alloh
kehormatan kita tidak akan terpuruk dan
akan tetap terjaga.
8. Tidak tahu etika
cara berbicara, cara berdebat, cara
berpakaian, cara makan dan minum, cara
bersendawa atau segala sisi kehidupan
memiliki standar etika yang harus
diketahui dengan baik, begitupun etika
aneka suku bangsa dan adat istiadat.
Tidak bisa tidak, lebih banyak yang
diketahui akan menjadikan lebih banyak
kesalahan yang dapat dihindari.
Tentu saja, tidak wajib kita beretika dengan
etika umum yang bertentangan
dengan etika Islam. Yang harus dilakukan
adalah memproporsionalkan tindakan
kita sesuai dengan keadaan dan kebutuhan
dan juga bernilai dakwah Islam.
Belajarlah lebih banyak, pahamilah lebih luas
dan berbuatlah lebih baik
serta lebih ikhlas, insya Alloh akan tetap
terhormat. Wallahu a ’lam
bishawab.
By AA Gym
Tampilkan postingan dengan label Menuju Keluarga Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju Keluarga Islami. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Januari 2011
Penyebab Jatuhnya Wibawa
Penyebab Jatuhnya Wibawa
Dialah Alloh ‘Azza wa jalla, Dzat Maha
pemberi karunia yang agung, yang
menjadikan kita makhluk-makhluk-Nya, bias
menjalalani hidup ini dengan
sebaik-baiknya, karunia wibawa adalah
salah satu diantaranya. Wibawa adalah
sebuah kata yang dapat menunjukan
tingkat kekuatan dalam seseorang yang
akan
sangat menunjang dalam efektifitasnya
menyampaikan pesan, mempengaruhi,
mengajak, merubah, menggugah,
memerintah, bahkan mengarahkan orang
lain
dalam upaya mencapai suatu tujuan.
Karenanya, potensi ini sangat penting untuk
dimiliki oleh setiap muslim,
karena ia memiliki kewajiban untuk
dakwah. Apalagi bagi muslim yang
diamanati memimpin atau mengelola
organisasi dalam skala apapun jua. Hanya
saja, tidak usah repot-repot merekayasa diri
agar tampak berwibawa, apalagi
dengan aneka rekayasa penampilan, gaya,
gerak-gerik, tingkah laku, tutur
kata atau asesoris luar lainnya.
Memang benar semua itu akan sempat
mengangkat kita, tetapi sesaat kemudian
akan kita akan terbanting lumpuh ketika
modal yang sebenarnya terbuka dan
ketahuilah bahwa keshalehan dan ketaatan
kita kepada Allah ‘Azza wa jalla
dengan sungguh-sungguh dan tulus,
dengan sendirinya akan membawa wibawa.
Sebagaimana Firman Alloh dalam .Surat Al-
Hujurat ayat 13 yang artinya
Sesungguhnya orang yang berwibawa
(mulia) disisi Alloh adalah orang yang
paling bertaqwa.
Yang sangat penting adalah bagaimana
agar kita dapat selalu menjaga diri
sehingga wibawa yang sudah ada tidak
terpupus habis akibat kelalaian kita
sendiri. Tiada lain, karena kesungguhan
menjaga diri pun sesungguhnya sudah
mejadi sarana dalam meningkatkan
kewibawaan. Alloh telah sungguh
menciptakan
kita dengan potensi wibawa.
(sesungguhnya kami menciptakan manusia
dalam
bentuk yang sebaik-baiknya” At-Tin ayat 4.
termasuk telah menciptakan
potensi sehingga kita dihormati oleh
sesama manusia, tinggal bagaimana kita
menjaganya.
Adapun faktor yang membuat seseorang
berwibawa dan prosentase pengaruhnya
terhadap kepemimpinan adalah sebagai
berikut :
1. kedudukan,pangkat, jabatan, kekuasaan,
kekutan, gelar, penampilan, dan
sejenisnya dengan prosentase sebesar 10 %
sebagai penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang.
2. sebagai penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang sebanyak 20 %
berikutnya
adalah keluasan dan kedalam ilmu, dan
porsi terbesar penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang ternyata adalah
profesionalisme dan personality (mutu
kepribadian) atau akhlak dalam pemahaman
yang menyeluruh dengan prosentase
sebesar 50 %.
Sedangkan penyebab jatuhnya wibawa
sebagai berikut :
1. Terbukanya ‘aib dan kekurangan diri.
Diketahui atau terbeberkannya berbagai ‘aib
dan dosa serta kesalahan masa
lalu atau tersingkapnya semua kekurangan
dan kebodohan kita dalam bidang
keilmuan, kekurangan dalam bidang
keterampilan atau keahlian, banyak hutang
dalam bidang perekonomian, hal-hal seperti
akan membuat kredibilitas kita
merosot dan akibatnya wibawa pun akan
berkurang. Adapun cara mengatasinya,
jikalau perbuatan dosa kepada Alloh
bertobatlah dengan sungguh-sungguh dan
berjuanglah untuk mejaga diri dari
perbuatan dosa dan maksiat sekecil apapun
pastilah, Alloh yang Maha melihat tidak akan
meyia-nyiakan atau
mempermalukan hambanya yang bertaubat
dengan tulus.
Sedangkan jika berkaitan dengan dosa
kepada manusia bersegeralah untuk
mengakui, beranikan unutk miminta maaf
jangan sungkan dan malu apalagi
gengsi. Meminta maaf hanya berat pada
awalnya saja. Berusahalah untuk
bertanggungjawab penuh seberat apapun
resiko yang harus dipikul unutk
mengembalikan dan memenuhi hak-haknya
yang terambil oleh kita. Percayalah,
kesungguhan kita untuk mengakui meminta
maaf, dan bertanggungjawab serta
kegigihan kita merubah dan memperbaiki
diri terus-menerus dengan tulus
ikhlas, insya Alloh kepercayaan akan pulih
kembali sekalipun memang
membutuhkan waktu dan proses yang lama.
Namun, ketahuilah bahwa Alloh sangat
meyukai orang yang penuh tanggungjawab
begitupun manusia lainnya yang akan
mudah bersimpati, dan melupakan masa
lalu.
Jika berkaitan dengan kekurangan ilmu,
keterampilan, keahlian, atau dililit
hutang, jangan membuat kita jadi tertekan
malu serta berusaha menutup-nutupi
dengan aneka alasan, apalagi berbuat so
tahu. Jadi lebih baik dan lega.
Andai kita berani mengakui dengan tulus
kekurangan kita serta berusaha keras
unutk memperbaiki mengejar kekurangan
ini dengan perencanaan yang baik dan
sungguh-sungguh.
Yakinilah bahwa orang itu sangat
menghargai keterbukaan kejujuran yng
tulus
daripada tipu daya dan aneka rekayasa
topeng yang pasti akan terbongkar.
Camkan pula, membeberkan aib dan
kekurangan diri sendiri yang selama ini
ditutup-tutupi Alloh adalah perbuatan yang
terlarang. Keterbukaan kita harus
proporsional dan membawa manfaat.
2. Seringnya membuat kesalahan dalam
aneka bentuk
orang akan lebih mudah memaklumi ketika
seseorang berbuat kesalahan untuk
pertama kali, tapi akan menjadi lain ketika
kesalahan yang sama terjadi
unutk kedua kalinya. Simpati pun akan sirna
ketika terulang kembali bahkan
akan tampak sangat menyebalkan jikalau
terus-menerus terjadi tanpa ada
perbaikan. Biasanya semua itu terjadi akibat
kemalasan, kelalaian, tidak
hati-hati atau ceroboh atau kurang
keseiusan atau kesungguhan dalam
melaksanakan tugas yang
diembankan..berrhati-hatilah, lakukanlah
segala
sesuatu dengan perencanaan yang baik,
persiapan yang matang selalu adkan cek
dan cek ulang, lalu laksanakan dengan
penuh kesungguhan serta lakukanlah
yang terbaik dari apa yang kita lakukan.
Jangan lupa pula untuk senantiasa menjaga
niat di hati, karena Alloh tidk
menerima semua amal ibadah kecuali yang
dilaksanakan dengan ikhlas. Sungguh,
Alloh Maha tahu segala isi hati. Jangan
pernah malas, berusahalah agar
tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Jangan pula membuat kesalahan yang
tidak perlu, namun kalaupun tetap terjadi
kesalahan di luar kemampuan kita,
jangan segan untuk mengakuinya dan tetap
nikmatilah. Kehormatan kita adalah
menjadi orang yang hidup penuh tanggung
jawab.
3. Lisan tidak terjaga
a. NATO (No Action Talk Only)
Siapa saja yang terlalu banyak bicara,
apalagi berbicara yang hebat-hebat
dan muluk-muluk tapi dalam kenyataan
pribadi dan perilakunya sangat jauh dan
tidak sebanding dengan perkataannya,
maka inilah bumerang yang paling
efektif utnuk menjatuhkan wibawa
seseorang. Ketahuilah, orang lain tidak
hanya punya telinga saja melainkan mereka
pun memiliki mata, pikiran,
perasaan, penilaian,dan perhitungan yang
turut mengamati kecocokan antara
kita dan perilaku kita. Rasulullah SAW dalam
hal ini bersabda, “Awal dari
kebahagiaan adalah menjaga lisan.”
Oleh karena itu, pastikan bahwa setiap kita
berkata, harus terkendali dengan
baik, efektif sesuai dengan kebutuhan,
sesuai dengan kenyataan tanpa harus
berlebihan atau mendramatisir, ataupun
mengurangi, sehingga menjadi kaku
tanpa makna. Berkatalah dengan tulus,
sederhana, mudah diganti dan mudah
dipahami. Ingatlah kata-kata terbaik adalah
perilaku dan perbuatan baik
kita. Karenanya, kata-kata yang
mengandung kekutan besar adalah kata-
kata
yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam,
dari hati yangbersih dan tulus
buah dari pengalaman hidupnya. Akarnya
ada pada kedewasaan dan kematangan
pribadi, nilai yang ikhlas, hati yang bersih,
dan kerendahan hati.
b. terlalu banyak bergurau
bercanda dan bergurau adalah karunia Alloh
yang membuat suasana menjadi
segar dan ceria, menjadi variasi aktivitas
kehidupan agar tidak jemu dan
membosankan. Rasulullah SAW
melakukannya dan begitu pula dengan para
sahabat
beliau, namun tentu saja dalam batas-batas
yang terjaga dan penuh
kehormatan. Tapi bagi orang yang tidak
hati-hati atau berselera rendah akan
sangat mudah untuk bergurau secara
berlebihan sehingga menjadi tidak lagi
kebaikan di dalamnya. Lebih celaka lagi
andaikata isi gurauannya sudah
menjurus kepada ghibah, kebohongan,
penghinaan, pelecehan, merendahkan(tanpa
disadari) atau kata-kata kotor yang tidak
sesuai dengan etika Islam, vulgar
(yang bisa memerahkan telinga dan
membuat malu orang-orang yang berusaha
memelihara diri) Semata-mata dilakukan
unutk memancing gelak tawa,
ketahuialah hampir dapat dipastikan
wibawanya akan jatuh, orang akan semakin
tidak hormat dan mereka akn menganggap
kita sebagai badut yang hanya layak
sebagai bahan tawaan belaka, naudzubillah.
Oleh karena itu, andaikan sedang bercanda
kendalikan diri sebaik-baiknya dan
jangan terpancing oleh kenikmatan tertawa.
Jangan pula sekali-kali bercanda
dengan meremehkan siapapun dengan
gurauan yang idak senonoh. Usahkan
gurauan kita penuh hikmah, bermutu, dan
dapat mengingatkan kepada Alloh
serta menambh ketaatan kepada-nya
c. sering berkata keras, kasar dan keji.
Setiap kata-kata yang kasar dan keji serta
disampaikan dengan nada keras dan
ketus hanya akan dapat melukai hati,
pendengarnya dan akan menimbulkan
kebencian serta mengobarkan kedendaman.
Tidak akan ada kesetiaan, ketaatan
dan penghormatan yang tulus bagi yang
hatinya selalu dilukai. Rasulullah SAW
adalah pimpinan puncak yang tidak
tertandingi oleh siapapun, namun beliau
tetap berlemah lembut dalam bertutur kata.
Itulah yang menyebabkan hati
umatnya ‘luluh’ terbeli untuk taat dan setia
kepadanya dan kepada kebenaran
yang disampaikannya. Oleh karena itu,
rabalah perasaan orang-orang yang
mendengar ucapan kita, kemaslah kata-kata
kita dengan kemasan yang lembut,
sopan, serta jauh dari apapun yang dapat
melukai hati atau yang dapat
menyusahkan perasaan, niscaya akan lebih
mudah dipahami dan diikuti dengan
senang hati. Sungguh dari pribadi kitalah
tersemburatnyawibawa kita ini,
tidak dari yang lain. Pribadi yang cemerlang,
akhlak yang mulia, lisan yang
terjaga, akan memancarkan cahaya
kepribadian yang takkan ada putus-
putusnya.
Tentu saja sepanjang ia istiqomah menjaga
kepribadiannya itu. Adapun
penyebab wibawa akibat tidak terjaganya
lisan yang lain adalah sebagai
berikut ;
d. sering mengobral janji yang tidak ditepati
dan sering bersumpah palsu.
Kita bisa lihat sendiri di lingkungan sekitar
kita, ada dua orang yang
sangat ringan dalam menjanjikan sesuatu
dengan bersumpah, semudah apa yang
terlintas di hatinya tanpa disertai upaya
untuk menepatinya dengan baik.
Ketahuilah bagi orang yang dibei janji, ia
akan selalu mengingat dan sulit
melupakan serta senantiasa menanti-nanti.
Pepatah mengatakan ‘menunggu itu
menjemukan’.
Padahal semakin kita menunggu semakin
janji kita tidak ditepati akan semakin
menggumpal kekecewaan, akan semakin
menggunung kemarahan, kebencian dan
akhirnya masuklah si ingkar janji dalam
daftar “para penipu”. Jadilah ia
orang yang tidak layak dipercaya lagi di
hatinya. Berhati-hatilah dalam
menjanjikan sesuatu, perhitungkan masak-
masak segala kemampuan dan
konsekuensinya. Catatlah dengan disaksikan
saksi yang dapat dipercaya dan
bersungguh-sungguh untuk menepatinya.
Tidak akan pernah rugi pagi para
penepati janji. Wajib diingat pula bahwa
janji adalah hutang yang akan
terbawa sampai mati.
e . berdusta atau terbukti berbohong
Setiap kebohongan atau dusta yang terucap,
tampak sepertinya akan membantu
menyelamatkan, yang sesungguhnya justru
kita sedang membuat penjara dan
mengikat rantai untuk membelenggu diri
sendiri, berarti pula kita sedang
menghancurkan kepercayaan serta
kredibilitas diri. Semua itu amatlah tidak
ternilai harganya. Alloh SWT dengan tegas
mengingatkan kita dal m
firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Alloh dan
berkatalah dengan perkataan yang
benar. ” (Al-Baqarah ayat 263 )
Sungguh anadaikata orang sudah tidak
menghargai lagi perkataan kita,
mencurigai janji-janji kita dan sangat
meragukan sumpah kita, maka kita
sudah tidak memiliki modal lagi. Untuk itu,
pastikan setiap perkataan kita
terjamin kebenarannya, sehingga siapapun
yang mendengarkan ucapan kita
merasa mantap tidak pernah ragu untuk
meyakininya.
By AAGym
Dialah Alloh ‘Azza wa jalla, Dzat Maha
pemberi karunia yang agung, yang
menjadikan kita makhluk-makhluk-Nya, bias
menjalalani hidup ini dengan
sebaik-baiknya, karunia wibawa adalah
salah satu diantaranya. Wibawa adalah
sebuah kata yang dapat menunjukan
tingkat kekuatan dalam seseorang yang
akan
sangat menunjang dalam efektifitasnya
menyampaikan pesan, mempengaruhi,
mengajak, merubah, menggugah,
memerintah, bahkan mengarahkan orang
lain
dalam upaya mencapai suatu tujuan.
Karenanya, potensi ini sangat penting untuk
dimiliki oleh setiap muslim,
karena ia memiliki kewajiban untuk
dakwah. Apalagi bagi muslim yang
diamanati memimpin atau mengelola
organisasi dalam skala apapun jua. Hanya
saja, tidak usah repot-repot merekayasa diri
agar tampak berwibawa, apalagi
dengan aneka rekayasa penampilan, gaya,
gerak-gerik, tingkah laku, tutur
kata atau asesoris luar lainnya.
Memang benar semua itu akan sempat
mengangkat kita, tetapi sesaat kemudian
akan kita akan terbanting lumpuh ketika
modal yang sebenarnya terbuka dan
ketahuilah bahwa keshalehan dan ketaatan
kita kepada Allah ‘Azza wa jalla
dengan sungguh-sungguh dan tulus,
dengan sendirinya akan membawa wibawa.
Sebagaimana Firman Alloh dalam .Surat Al-
Hujurat ayat 13 yang artinya
Sesungguhnya orang yang berwibawa
(mulia) disisi Alloh adalah orang yang
paling bertaqwa.
Yang sangat penting adalah bagaimana
agar kita dapat selalu menjaga diri
sehingga wibawa yang sudah ada tidak
terpupus habis akibat kelalaian kita
sendiri. Tiada lain, karena kesungguhan
menjaga diri pun sesungguhnya sudah
mejadi sarana dalam meningkatkan
kewibawaan. Alloh telah sungguh
menciptakan
kita dengan potensi wibawa.
(sesungguhnya kami menciptakan manusia
dalam
bentuk yang sebaik-baiknya” At-Tin ayat 4.
termasuk telah menciptakan
potensi sehingga kita dihormati oleh
sesama manusia, tinggal bagaimana kita
menjaganya.
Adapun faktor yang membuat seseorang
berwibawa dan prosentase pengaruhnya
terhadap kepemimpinan adalah sebagai
berikut :
1. kedudukan,pangkat, jabatan, kekuasaan,
kekutan, gelar, penampilan, dan
sejenisnya dengan prosentase sebesar 10 %
sebagai penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang.
2. sebagai penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang sebanyak 20 %
berikutnya
adalah keluasan dan kedalam ilmu, dan
porsi terbesar penyumbang tingkat
kewibawaan seseorang ternyata adalah
profesionalisme dan personality (mutu
kepribadian) atau akhlak dalam pemahaman
yang menyeluruh dengan prosentase
sebesar 50 %.
Sedangkan penyebab jatuhnya wibawa
sebagai berikut :
1. Terbukanya ‘aib dan kekurangan diri.
Diketahui atau terbeberkannya berbagai ‘aib
dan dosa serta kesalahan masa
lalu atau tersingkapnya semua kekurangan
dan kebodohan kita dalam bidang
keilmuan, kekurangan dalam bidang
keterampilan atau keahlian, banyak hutang
dalam bidang perekonomian, hal-hal seperti
akan membuat kredibilitas kita
merosot dan akibatnya wibawa pun akan
berkurang. Adapun cara mengatasinya,
jikalau perbuatan dosa kepada Alloh
bertobatlah dengan sungguh-sungguh dan
berjuanglah untuk mejaga diri dari
perbuatan dosa dan maksiat sekecil apapun
pastilah, Alloh yang Maha melihat tidak akan
meyia-nyiakan atau
mempermalukan hambanya yang bertaubat
dengan tulus.
Sedangkan jika berkaitan dengan dosa
kepada manusia bersegeralah untuk
mengakui, beranikan unutk miminta maaf
jangan sungkan dan malu apalagi
gengsi. Meminta maaf hanya berat pada
awalnya saja. Berusahalah untuk
bertanggungjawab penuh seberat apapun
resiko yang harus dipikul unutk
mengembalikan dan memenuhi hak-haknya
yang terambil oleh kita. Percayalah,
kesungguhan kita untuk mengakui meminta
maaf, dan bertanggungjawab serta
kegigihan kita merubah dan memperbaiki
diri terus-menerus dengan tulus
ikhlas, insya Alloh kepercayaan akan pulih
kembali sekalipun memang
membutuhkan waktu dan proses yang lama.
Namun, ketahuilah bahwa Alloh sangat
meyukai orang yang penuh tanggungjawab
begitupun manusia lainnya yang akan
mudah bersimpati, dan melupakan masa
lalu.
Jika berkaitan dengan kekurangan ilmu,
keterampilan, keahlian, atau dililit
hutang, jangan membuat kita jadi tertekan
malu serta berusaha menutup-nutupi
dengan aneka alasan, apalagi berbuat so
tahu. Jadi lebih baik dan lega.
Andai kita berani mengakui dengan tulus
kekurangan kita serta berusaha keras
unutk memperbaiki mengejar kekurangan
ini dengan perencanaan yang baik dan
sungguh-sungguh.
Yakinilah bahwa orang itu sangat
menghargai keterbukaan kejujuran yng
tulus
daripada tipu daya dan aneka rekayasa
topeng yang pasti akan terbongkar.
Camkan pula, membeberkan aib dan
kekurangan diri sendiri yang selama ini
ditutup-tutupi Alloh adalah perbuatan yang
terlarang. Keterbukaan kita harus
proporsional dan membawa manfaat.
2. Seringnya membuat kesalahan dalam
aneka bentuk
orang akan lebih mudah memaklumi ketika
seseorang berbuat kesalahan untuk
pertama kali, tapi akan menjadi lain ketika
kesalahan yang sama terjadi
unutk kedua kalinya. Simpati pun akan sirna
ketika terulang kembali bahkan
akan tampak sangat menyebalkan jikalau
terus-menerus terjadi tanpa ada
perbaikan. Biasanya semua itu terjadi akibat
kemalasan, kelalaian, tidak
hati-hati atau ceroboh atau kurang
keseiusan atau kesungguhan dalam
melaksanakan tugas yang
diembankan..berrhati-hatilah, lakukanlah
segala
sesuatu dengan perencanaan yang baik,
persiapan yang matang selalu adkan cek
dan cek ulang, lalu laksanakan dengan
penuh kesungguhan serta lakukanlah
yang terbaik dari apa yang kita lakukan.
Jangan lupa pula untuk senantiasa menjaga
niat di hati, karena Alloh tidk
menerima semua amal ibadah kecuali yang
dilaksanakan dengan ikhlas. Sungguh,
Alloh Maha tahu segala isi hati. Jangan
pernah malas, berusahalah agar
tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Jangan pula membuat kesalahan yang
tidak perlu, namun kalaupun tetap terjadi
kesalahan di luar kemampuan kita,
jangan segan untuk mengakuinya dan tetap
nikmatilah. Kehormatan kita adalah
menjadi orang yang hidup penuh tanggung
jawab.
3. Lisan tidak terjaga
a. NATO (No Action Talk Only)
Siapa saja yang terlalu banyak bicara,
apalagi berbicara yang hebat-hebat
dan muluk-muluk tapi dalam kenyataan
pribadi dan perilakunya sangat jauh dan
tidak sebanding dengan perkataannya,
maka inilah bumerang yang paling
efektif utnuk menjatuhkan wibawa
seseorang. Ketahuilah, orang lain tidak
hanya punya telinga saja melainkan mereka
pun memiliki mata, pikiran,
perasaan, penilaian,dan perhitungan yang
turut mengamati kecocokan antara
kita dan perilaku kita. Rasulullah SAW dalam
hal ini bersabda, “Awal dari
kebahagiaan adalah menjaga lisan.”
Oleh karena itu, pastikan bahwa setiap kita
berkata, harus terkendali dengan
baik, efektif sesuai dengan kebutuhan,
sesuai dengan kenyataan tanpa harus
berlebihan atau mendramatisir, ataupun
mengurangi, sehingga menjadi kaku
tanpa makna. Berkatalah dengan tulus,
sederhana, mudah diganti dan mudah
dipahami. Ingatlah kata-kata terbaik adalah
perilaku dan perbuatan baik
kita. Karenanya, kata-kata yang
mengandung kekutan besar adalah kata-
kata
yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam,
dari hati yangbersih dan tulus
buah dari pengalaman hidupnya. Akarnya
ada pada kedewasaan dan kematangan
pribadi, nilai yang ikhlas, hati yang bersih,
dan kerendahan hati.
b. terlalu banyak bergurau
bercanda dan bergurau adalah karunia Alloh
yang membuat suasana menjadi
segar dan ceria, menjadi variasi aktivitas
kehidupan agar tidak jemu dan
membosankan. Rasulullah SAW
melakukannya dan begitu pula dengan para
sahabat
beliau, namun tentu saja dalam batas-batas
yang terjaga dan penuh
kehormatan. Tapi bagi orang yang tidak
hati-hati atau berselera rendah akan
sangat mudah untuk bergurau secara
berlebihan sehingga menjadi tidak lagi
kebaikan di dalamnya. Lebih celaka lagi
andaikata isi gurauannya sudah
menjurus kepada ghibah, kebohongan,
penghinaan, pelecehan, merendahkan(tanpa
disadari) atau kata-kata kotor yang tidak
sesuai dengan etika Islam, vulgar
(yang bisa memerahkan telinga dan
membuat malu orang-orang yang berusaha
memelihara diri) Semata-mata dilakukan
unutk memancing gelak tawa,
ketahuialah hampir dapat dipastikan
wibawanya akan jatuh, orang akan semakin
tidak hormat dan mereka akn menganggap
kita sebagai badut yang hanya layak
sebagai bahan tawaan belaka, naudzubillah.
Oleh karena itu, andaikan sedang bercanda
kendalikan diri sebaik-baiknya dan
jangan terpancing oleh kenikmatan tertawa.
Jangan pula sekali-kali bercanda
dengan meremehkan siapapun dengan
gurauan yang idak senonoh. Usahkan
gurauan kita penuh hikmah, bermutu, dan
dapat mengingatkan kepada Alloh
serta menambh ketaatan kepada-nya
c. sering berkata keras, kasar dan keji.
Setiap kata-kata yang kasar dan keji serta
disampaikan dengan nada keras dan
ketus hanya akan dapat melukai hati,
pendengarnya dan akan menimbulkan
kebencian serta mengobarkan kedendaman.
Tidak akan ada kesetiaan, ketaatan
dan penghormatan yang tulus bagi yang
hatinya selalu dilukai. Rasulullah SAW
adalah pimpinan puncak yang tidak
tertandingi oleh siapapun, namun beliau
tetap berlemah lembut dalam bertutur kata.
Itulah yang menyebabkan hati
umatnya ‘luluh’ terbeli untuk taat dan setia
kepadanya dan kepada kebenaran
yang disampaikannya. Oleh karena itu,
rabalah perasaan orang-orang yang
mendengar ucapan kita, kemaslah kata-kata
kita dengan kemasan yang lembut,
sopan, serta jauh dari apapun yang dapat
melukai hati atau yang dapat
menyusahkan perasaan, niscaya akan lebih
mudah dipahami dan diikuti dengan
senang hati. Sungguh dari pribadi kitalah
tersemburatnyawibawa kita ini,
tidak dari yang lain. Pribadi yang cemerlang,
akhlak yang mulia, lisan yang
terjaga, akan memancarkan cahaya
kepribadian yang takkan ada putus-
putusnya.
Tentu saja sepanjang ia istiqomah menjaga
kepribadiannya itu. Adapun
penyebab wibawa akibat tidak terjaganya
lisan yang lain adalah sebagai
berikut ;
d. sering mengobral janji yang tidak ditepati
dan sering bersumpah palsu.
Kita bisa lihat sendiri di lingkungan sekitar
kita, ada dua orang yang
sangat ringan dalam menjanjikan sesuatu
dengan bersumpah, semudah apa yang
terlintas di hatinya tanpa disertai upaya
untuk menepatinya dengan baik.
Ketahuilah bagi orang yang dibei janji, ia
akan selalu mengingat dan sulit
melupakan serta senantiasa menanti-nanti.
Pepatah mengatakan ‘menunggu itu
menjemukan’.
Padahal semakin kita menunggu semakin
janji kita tidak ditepati akan semakin
menggumpal kekecewaan, akan semakin
menggunung kemarahan, kebencian dan
akhirnya masuklah si ingkar janji dalam
daftar “para penipu”. Jadilah ia
orang yang tidak layak dipercaya lagi di
hatinya. Berhati-hatilah dalam
menjanjikan sesuatu, perhitungkan masak-
masak segala kemampuan dan
konsekuensinya. Catatlah dengan disaksikan
saksi yang dapat dipercaya dan
bersungguh-sungguh untuk menepatinya.
Tidak akan pernah rugi pagi para
penepati janji. Wajib diingat pula bahwa
janji adalah hutang yang akan
terbawa sampai mati.
e . berdusta atau terbukti berbohong
Setiap kebohongan atau dusta yang terucap,
tampak sepertinya akan membantu
menyelamatkan, yang sesungguhnya justru
kita sedang membuat penjara dan
mengikat rantai untuk membelenggu diri
sendiri, berarti pula kita sedang
menghancurkan kepercayaan serta
kredibilitas diri. Semua itu amatlah tidak
ternilai harganya. Alloh SWT dengan tegas
mengingatkan kita dal m
firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kamu kepada Alloh dan
berkatalah dengan perkataan yang
benar. ” (Al-Baqarah ayat 263 )
Sungguh anadaikata orang sudah tidak
menghargai lagi perkataan kita,
mencurigai janji-janji kita dan sangat
meragukan sumpah kita, maka kita
sudah tidak memiliki modal lagi. Untuk itu,
pastikan setiap perkataan kita
terjamin kebenarannya, sehingga siapapun
yang mendengarkan ucapan kita
merasa mantap tidak pernah ragu untuk
meyakininya.
By AAGym
Jumat, 07 Januari 2011
Cyaaang Sang Istri
Assalamu'alaikum. .
Mah, sy copy paste(copas) adab berbicara dan adab mendengar n menolak dari suatu website ini untuk menambah ilmu kita dalam adab beradab. Mah, bukan sy menyuruh atau menasehati. Ini juga terutama untuk sy sendiri. Dalam melakukan apapun, kita kata Cepot, katany harus punya adab. :)
mah, nanti mungkin sy akan terus berbagi juga mengenai hal2 ttg agama atau keluarga agar kita dapat membentuk keluarga islami. Kita ingin membentuk keluarga islami secara menyeluruh/kaffah. Y, klo ada waktu, mohon mamih baca hal tersebut.
Semoga bermanfaat y mah. .
Luph u. .
Wassalamu'alaikum. .
Mah, sy copy paste(copas) adab berbicara dan adab mendengar n menolak dari suatu website ini untuk menambah ilmu kita dalam adab beradab. Mah, bukan sy menyuruh atau menasehati. Ini juga terutama untuk sy sendiri. Dalam melakukan apapun, kita kata Cepot, katany harus punya adab. :)
mah, nanti mungkin sy akan terus berbagi juga mengenai hal2 ttg agama atau keluarga agar kita dapat membentuk keluarga islami. Kita ingin membentuk keluarga islami secara menyeluruh/kaffah. Y, klo ada waktu, mohon mamih baca hal tersebut.
Semoga bermanfaat y mah. .
Luph u. .
Wassalamu'alaikum. .
Adab Mendengar n Tidak Setuju
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara
dan tidak memalingkan wajah darinya
sepanjang sesuai dengan syariat (bukan
berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya
walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan
perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia
lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang
menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan
lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan
taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan
menyampaikan sisi benarnya lebih dulu
sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan
syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya
merupakan hal yang penting dan dapat
dilaksanakan dan bukan sesuatu yang
belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan
memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara,
tidak berbicara di luar kemampuan lawan
bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi
diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati
dalam keadaan bersih, dan menghindari
kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi
tawakkaltu wa ilaihi uniib.
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara
dan tidak memalingkan wajah darinya
sepanjang sesuai dengan syariat (bukan
berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya
walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan
perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia
lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang
menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan
lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan
taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan
menyampaikan sisi benarnya lebih dulu
sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan
syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya
merupakan hal yang penting dan dapat
dilaksanakan dan bukan sesuatu yang
belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan
memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara,
tidak berbicara di luar kemampuan lawan
bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi
diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati
dalam keadaan bersih, dan menghindari
kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi
tawakkaltu wa ilaihi uniib.
Adab Berbicara
ADAB BERBICARA
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS
4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW
disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH
dan hari akhir maka hendaklah berkata
baik atau lebih baik diam. ” (HR Bukhari
Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar,
sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW
itu selalu jelas sehingga bias difahami
oleh semua yang mendengar. ” (HR Abu
Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele,
berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku
benci dan paling jauh dariku nanti di
hari Kiamat ialah orang yang banyak
omong dan berlagak dalam berbicara.”
Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami
telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan
mutasyaddiqun, lalu apa makna al-
mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW:
“ Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi
dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena
kuatir membosankan yang mendengar,
sebagaimana dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Wa ’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa
mengajari kami setiap hari Kamis, maka
berkata seorang lelaki: Wahai abu
AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas ’ud)!
Seandainya anda mau mengajari kami
setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas ’ud :
Sesungguhnya tidak ada yang
menghalangiku memenuhi
keinginanmu, hanya aku kuatir
membosankan kalian, karena akupun
pernah meminta yang demikian pada
nabi SAW dan beliau menjawab kuatir
membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika
dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi
SAW jika berbicara maka beliau SAW
mengulanginya 3 kali sehingga semua yang
mendengarkannya menjadi faham, dan
apabila beliau SAW mendatangi rumah
seseorang maka beliau SAW pun
mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil,
berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba
mengucapkan satu kata yang diridhai
ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang
akan mendapatkan demikian sehingga
dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA
bagi orang tersebut sampai nanti hari
Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan
satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang
tidak dikiranya akan demikian, maka
ALLAH SWT mencatatnya yang demikian
itu sampai hari Kiamat. ” (HR Tirmidzi dan
ia berkata hadits hasan shahih; juga
diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan
hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah
mendapatkan hidayah untuk mereka,
melainkan karena terlalu banyak
berdebat. ” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi
SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi
yang menghindari berdebat sekalipun ia
benar, dan aku jamin rumah ditengah
surga bagi yang menghindari dusta
walaupun dalam bercanda, dan aku
jamin rumah di puncak surga bagi yang
baik akhlaqnya. ” (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela,
melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka
mencela, mela’nat dan berkata-kata
keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan
hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang
disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak
ialah orang yang suka membuat
manusia tertawa. ” (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang
dan saling memanggil dengan gelar yang
buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam
hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal
padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu
menjadi amanah bagimu untuk
menjaganya. ” (HR Abu Daud dan
Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits
nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia
bicara berdusta, jika ia berjanji
mengingkari dan jika diberi amanah ia
khianat. ” (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu
domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan
janganlah kalian saling membenci, dan
janganlah kalian saling berkata-kata keji,
dan janganlah kalian saling
menghindari, dan janganlah kalian
saling meng-ghibbah satu dengan yang
lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH
yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji,
berdasarkan hadits nabi SAW dari
AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari
bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di
depan orang tersebut, maka kata nabi
SAW: “Celaka kamu, kamu telah
mencelakakan saudaramu! Kamu telah
mencelakakan saudaramu !” (2 kali), lalu
kata beliau SAW: “Jika ada seseorang
ingin memuji orang lain di depannya
maka katakanlah: Cukuplah si fulan,
semoga ALLAH mencukupkannya, kami
tidak mensucikan seorangpun disisi
ALLAH, lalu barulah katakan sesuai
kenyataannya. ” (HR Muttafaq ‘alaih dan
ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar
berkata: Berdiri seseorang memuji
seorang pejabat di depan Miqdad bin
Aswad secara berlebih-lebihan, maka
Miqdad mengambil pasir dan
menaburkannya di wajah orang itu, lalu
berkata: Nabi SAW memerintahkan kami
untuk menaburkan pasir di wajah orang
yang gemar memuji. (HR Muslim)
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS
4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW
disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH
dan hari akhir maka hendaklah berkata
baik atau lebih baik diam. ” (HR Bukhari
Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar,
sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW
itu selalu jelas sehingga bias difahami
oleh semua yang mendengar. ” (HR Abu
Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele,
berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku
benci dan paling jauh dariku nanti di
hari Kiamat ialah orang yang banyak
omong dan berlagak dalam berbicara.”
Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami
telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan
mutasyaddiqun, lalu apa makna al-
mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW:
“ Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi
dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena
kuatir membosankan yang mendengar,
sebagaimana dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Wa ’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa
mengajari kami setiap hari Kamis, maka
berkata seorang lelaki: Wahai abu
AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas ’ud)!
Seandainya anda mau mengajari kami
setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas ’ud :
Sesungguhnya tidak ada yang
menghalangiku memenuhi
keinginanmu, hanya aku kuatir
membosankan kalian, karena akupun
pernah meminta yang demikian pada
nabi SAW dan beliau menjawab kuatir
membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika
dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi
SAW jika berbicara maka beliau SAW
mengulanginya 3 kali sehingga semua yang
mendengarkannya menjadi faham, dan
apabila beliau SAW mendatangi rumah
seseorang maka beliau SAW pun
mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil,
berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba
mengucapkan satu kata yang diridhai
ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang
akan mendapatkan demikian sehingga
dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA
bagi orang tersebut sampai nanti hari
Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan
satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang
tidak dikiranya akan demikian, maka
ALLAH SWT mencatatnya yang demikian
itu sampai hari Kiamat. ” (HR Tirmidzi dan
ia berkata hadits hasan shahih; juga
diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan
hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah
mendapatkan hidayah untuk mereka,
melainkan karena terlalu banyak
berdebat. ” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi
SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi
yang menghindari berdebat sekalipun ia
benar, dan aku jamin rumah ditengah
surga bagi yang menghindari dusta
walaupun dalam bercanda, dan aku
jamin rumah di puncak surga bagi yang
baik akhlaqnya. ” (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela,
melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka
mencela, mela’nat dan berkata-kata
keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan
hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang
disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak
ialah orang yang suka membuat
manusia tertawa. ” (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang
dan saling memanggil dengan gelar yang
buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam
hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal
padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu
menjadi amanah bagimu untuk
menjaganya. ” (HR Abu Daud dan
Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits
nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia
bicara berdusta, jika ia berjanji
mengingkari dan jika diberi amanah ia
khianat. ” (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu
domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan
janganlah kalian saling membenci, dan
janganlah kalian saling berkata-kata keji,
dan janganlah kalian saling
menghindari, dan janganlah kalian
saling meng-ghibbah satu dengan yang
lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH
yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji,
berdasarkan hadits nabi SAW dari
AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari
bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di
depan orang tersebut, maka kata nabi
SAW: “Celaka kamu, kamu telah
mencelakakan saudaramu! Kamu telah
mencelakakan saudaramu !” (2 kali), lalu
kata beliau SAW: “Jika ada seseorang
ingin memuji orang lain di depannya
maka katakanlah: Cukuplah si fulan,
semoga ALLAH mencukupkannya, kami
tidak mensucikan seorangpun disisi
ALLAH, lalu barulah katakan sesuai
kenyataannya. ” (HR Muttafaq ‘alaih dan
ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar
berkata: Berdiri seseorang memuji
seorang pejabat di depan Miqdad bin
Aswad secara berlebih-lebihan, maka
Miqdad mengambil pasir dan
menaburkannya di wajah orang itu, lalu
berkata: Nabi SAW memerintahkan kami
untuk menaburkan pasir di wajah orang
yang gemar memuji. (HR Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)